kuliah siapa yang suruh?


Banyak hal yang terjadi di dunia. kadang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. para sarjana telah menyelesaikan kuliahnya. tapi terkadang sebagian mereka memilih untuk berlama-lama bertahan duduk di bangku kuliahnya. ngenes kalau kita melihat mahasiswa seperti itu. akan tetapi lebih parah lagi kondisi kita yang sudah lulus. Kebanyakan merasakan hal ini tapi mudah-mudahan anda yang membaca ini sudah jauh melalui masa tersebut.

Bukannya kita tidak mendapatkan kerja sama sekali, terkadang kita lebih memilih untuk diam di rumah ketimbang harus bekerja dengan orang. Lebih lagi jika kita bekerja dengan orang lain yang ternyata gaji yang mereka bayarkan tidak sesuai dengan makian yang dia hadiahkan kepada karyawan-karyawan yang sedikit "nakal". Hal ini menjadikan mereka yang terlibat rela meninggalkan gaji delapan juta sebulan sekalipun(untuk level riau itu dah tinggi bro), apalagi lulusan uin.

Sebagian kita memilih untuk menekuni bidang yang bukan sesuai dengan bidang keahlian yang kita miliki. Kita bekerja dengan keahlian yang dikarbit melalui training yang diberikan oleh perusahaan sehingga secara tidak langsung kita merasa percuma kuliah dan lain sebagainya.

Kuliah siapa yang suruh?
kuliah saja belum tentu jadi sesuatu, apalagi tidak kuliah. Lalu kenapa sarjana hari ini masih setara gajinya dengan tamatan SMA? Apakah anda mau ambil kesimpulan dan bertanya mengapa anda kuliah? toh sama saja? sekali lagi itu salah. Tapi tidak sepenuhnya salah, karena kebanyakan yang tidak kuliah menjadi orang bahkan sangat kaya seperti Bob Sadino. Bahkan mungkin anda pernah mendengar istilah orang yang sekolah bekerja untuk orang yang tidak kerja.

Sekolah tidak menjadi ukuran kesuksesan manusia indonesia pada hari ini. Karena masih banyak sekali masyarakat yang kuliah atau sekolah tinggi setinggi langit tapi tidak belajar. Hakikat sekolah adalah belajar, tapi kebanyakan kita sekolah karena kawan-kawan yang lain juga sekolah, akhirnya kita juga pilih sekolah. Salah niat seperti ini menjadikan kualitas kita tidak terbangun. Ketika kualitas tidak terbangun, maka dunia usaha akan mengharagai kita sama dengan yang tidak sekolah.

Dunia pendidikan tidak bisa diisi dengan orang-orang yang mau sekolah, tapi orang sekolah harus mau belajar agar kita tidak lagi dipandang setara dengan mereka yang tidak sekolah. Ketika kita sekolah dan tidak belajar, maka kita akan mendapatkan pengetahuan yang dangkal, pengalaman yang terbatas. Untuk itu kita harus mengubah niat untuk belajar, tidak cukup belajar dari buku, guru, atau dosen, tetapi kita juga harus belajar dengan lingkungan. Kita belajar bagaimana lingkungan kerja, lingkungan sosial, sesuai dengan minat kita. Pemuda Indonesia, mari kita belajar.

Comments