Stop Loss dalam Trading: Menyadari Waktu Entry dan Exit dari market

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera buat kamu sekalian. 

Apa kabar semua... sudah lama tidak memulai lagi untuk menulis... hari ini sedih rasanya karena akun edsense saya di banned oleh google. Salah sendiri sih, karena pengen cepeten dapat monetize dari google akhirnya mencet iklan sendiri dan di banned selama 30 hari. 

Kali ini kita ngomongin tentang masalah stop loss dalam trading. Tulisan ini khusus buat kamu yang berburu profit dan tidak mau rugi dalam perdagangan. Kita yang fokus dengan sabar menunggu rencana trading kita untuk profit dan kita yang tidak mau terima ketika ternyata trading kita tidak sesuai dengan harapan kita dan membuat akun kita menjadi rugi. Lenyap... Profit yang sudah kita bangun dalam hitungan minggu, 7 hari kemudian hilang begitu saja. Dalam trading sebenarnya ada dua hal yang harus kita kuasai. Sama seperti jual beli. Kita harus tau kapan kita membeli dan kapan waktu kita menjual, begitu juga sebaliknya. Kapan kita membeli barang membutuhkan sebuah perencanaan yang baik, ketika musim dingin, apakah kita mau jualan es? atau ketika musim panas, di daerah yang panas dan cuacanya extrem dan sangat panas, apakah kita mau beli jaket untuk di jual kembali? tentu tidak segampang itu juga kita memutuskan untuk beli ini dan jual ini dalam kondisi tertentu. Sama halnya dengan trading, kita harus mampu menentukan kapan kita masuk ke dalam pasar dan kuluar dari pasar tersebut. kapan kita beli, harus diikuti dengan pertanyaan kapan kita jual dengan kondisi apapun. 

Berbicara stop loss itu sama dengan waktu exit pasar. Berbeda dengan bab entry market saya pikir semua kita sudah sangat mengetahui dan memiliki pemahaman yang sangat banyak untuk mencari peluang dalam masuk ke pasar. Tapi kita tidak pernah mau sadar untuk keluar dari pasar, apalagi ketika melihat akun kita dalam kondisi merah, maka kita akan sabar menunggu sampai akun tersebut margin call. Di sisi lain ketika akun kita hijau, dalam kondisi profit, kita juga bingung kapan mau take profit, sehingga ada yang buru-buru close posisi dan ada yang membiarkannya saja sehingga balik arah dan merugi. Hal ini yang sering dilupakan oleh trader sehingga banyak dari kita yang akhirnya kecewa dengan pasar yang tidak memberikan kita hasil yang kita inginkan. 

STOP melakukan hal terebut, karena kadang sebodoh-bodohnya kita entry, pasti kita akan profit cuma pandai-pandai kita untuk exit dan hal yang harus kamu ketahui bahwa sebodoh-bodohnya trader adalah orang yang tidak tau kapan dia keluar dari market. Untuk keluar dari market, ada hal yang harus kita kuasai, yaitu tentang pengelolaan margin, kita harus berhitung dengan margin yang kita mimiliki dan konsisten dengan margin tersebut. Untuk mampu survive dengan margin, kita harus membatasi margin yang dapat kita korbankan ketika dalam kondisi rugi. Berapa persen kerugian yang mampu atau berapa uang yang secara realistis dapat kita korbankan dalam satu kerugian pada saat trading? 30% dari equity? atau 50% dari equity? ini harus kita perhatikan agar akun kita tetap awet sampai waktu yang sangat panjang. 

Di awal trading kita selalu disiplin untuk menetapkan margin tersebut, 30% atau 20% atau bahkan ada yang sangat safety terhadap akun mereka, ambil resiko 10%. Setelah akun kita membengkak, kita lupa, kita lupa bahwa eqquity kita sudah naik dan kita tidak lagi berpikir tetang ketahanan akun kita. Merasa sudah mendapatkan banyak profit, sehingga kita tidak peduli lagi dengan persentase keuntungan dan kerugian yang akan kita tanggung. Hal ini yang kemudian menjadikan kita seperti orang bodoh dan lupa kapan harus keluar dari pasar. Untuk menyadari hal ini, kita harus selalu menghitung margin dan equity kita sebelum entry posisi lagi dalam trading, hitung berapa equity kita dan hitung lagi berapa kerugian yang layak kita tanggung. Apakah 10%, 20%, 25%, atau 30%. Jangan membabi buta dengan mempertaruhkan 100% equity dan siap rugi dengan kepala berdiri (sombong mengatakan gpp rugi saya sudah siap). Sebodoh-bodohnya trader adalah orang yang pasrah dan lupa dengan ambang batas margin kerugian yang harus ditanggung (anda adalah seorang gambler not trader). 

INGAT, berapa margin kita yang harus kita tanggung ketika kita melakukan entry posisi. 10%, 20%, 25%,30% dan JANGAN PERNAH 100% (NOTING TO LOSE). Dengan mamahami hal ini, maka kita akan menyadari kapan waktu kita akan keluar dari market. Keluar dari kerugian dengan menghitung berapa persen margin yang direlakan dan berapa pip yang akan menghabiskan margin yang kita tetapkan tersebut. 

FINALLY, dengan selalu menjaga margin dan ambang batas kerugian tersebut, maka kita tau kapan kita harus keluar dari market. Ketika harga berbalik arah dari arah yang kita rencanakan, dan pergerakan market menguras equity anda sampai dengan ambang batas margin yang kita rencanakan, maka STOP LOSS dan keluarlah dari market. Jangan dilawan, karena hari esok masih ada, jangankan nunggu hari esok, kita bisa tunggu kesempatan lain setelah beberapa candle stik berlalu. Kita punya kesempatan untuk open posisi di sesi eropa, atau sesi amerika di lain waktu.

Comments